Taksu Lan Pariwisata Bali


     Kali ini di Pariwisata Jenaka akan mencoba membahas sebuah taksu dan pariwisata di Bali. Cukup serius, dan cukup sulit melihat sisi jenakanya, tetapi mari kita coba. Mungkin bagi yang awam mendengar kata taksu, ini ialah Bahasa Bali yang mengartikan sebuah daya/kharisma yang memiliki nilai magis atau nilai yang membuat kita merasa wah ketika melihatnya. Agak sulit menjelaskan taksu itu seperti apa karna memang kata ini sangat bias/sebagai kata ungkapan ketika melihat sesuatu yang memiliki daya magis lalu orang bali akan mengatakan, bahwa benda itu bertaksu. Namun dalam pariwisata jenaka kali ini kita akan membahas sebuah taksu budaya Bali yang secara langsung terpapar budaya asing melalui aktivitas pariwisata, dan apakah taksu itu akan memudar atau bisa saja hilang ? 


Gambar 1. Cover 

    Bali sangat terkenal dengan pariwisata budayanya.......... dulu, sekarang ? masih juga, karna pemerintah menjadikan pariwisata sebagai alat untuk melestarikan budaya Bali itu sendiri. Terbukti dengan sebagian besar aktivitas wisata yang terkenal di Bali merupakan aktivitas budaya, seperti Barong Dnace, Kecak Dance, Keris Dance, Desa Tradisional dan objek wisata budaya lainnya. Tapi coba kita lihat perkembangan yang terjadi sekarang, adakah kalian melihat aktivitas wisata budaya yang baru, selain yang disebutkan diatas ? kayanya ada, tapi kurang terkenal kalah ama omnia, atau lafavela. Berarti konsep Pariwisata Budaya di Bali belum begitu berkembang terlihat persebarannya hanya itu- itu saja dari awalnya ada pariwisata hingga saat ini. Tapi hal itu bukan berarti budaya Bali telah hilang tidak, hanya belum hilang, hehe bercanda, masih kok di desa- desa budaya Bali masih berkembang sangat indah, coba saja masuk ke sebuah desa yang tidak ada pariwisatanya, dan kita akan temukan Bali yang sesungguhnya. 


Gambar 2. Aktivitas Budaya Di Desa Karangasem

    Berbicara budaya dan taksu apa sih kaitanya, tentu saja melalui budayalah taksu ini muncul. Contohnya kepercayaan orang Bali menggunakan gelang tridatu (gelang warna merah, hitam,putih) yang menjadi sebuah budaya bahkan identitas diri, biasanya kalau melihat orang menggunakan gelang ini pasti kita tau dia itu orang Bali. Nah gelang ini dipercaya memiliki taksu yang cukup kuat bagi orang Bali karena dipercaya gelang ini dapat melindungi kita dari hal negatif. Dan melalui aktivitas pariwisata gelang ini juga mampu menjadi pelindung ekonomi karena sudah banyak dijadikan souvenir. Tidak salah menurut kami, tetapi perlu adanya edukasi misalnya di pembungkus gelang (souvenir pariwisata ya) terdapat tutorial/cara pemakaiannya dan makna ketika menggunakannya. Karna tidak ada yang tahu, nanti ada wisatawan yang beli terus mereka menggunakannya di tangan kiri, dan bahkan menggunakannya di kaki ? nah hal inilah yang harus kita perhatikan bersama agar tidak mengurangi taksu dari budaya kita walaupun adanya pariwisata.

    

Gambar 3. Sumber : Google search 2021


     Pada gambar diatas terdapat sebuah air berisikan bunga yang diletakan kedalam mangkok cantik dan juga berisikan gayung yang indah berwarna emas gelap. Coba jujur, apa yang ada dipikiran kalian saat ini apakah sama dengan kami, kalian coba tebak benda ini apa dan fungsinya apa ? biasanya digunakan dimana dan untuk apa benda ini ditata sedemikian rupa. Sangat estetik sekali, saya yakin kalian hampir semua bisa menebaknya. Dari gambarnya saja sudah terpancar kesegaran air yang direndam dengan bunga itu. Tapi taukah kalian itu apa dan digunakan untuk apa ? (fokus ke gambar yang saya cantumkan bukan yang laniya)


Gambar 4. Sumber : Google search 2021

    Yaps tepat sekali, itu adalah salah satu alat spa, iyaaa kebetulan aja mirip dengan salah satu alat persembahyangan di Bali, tapi cuma kebetulan saja kok, KEBETULAN. Lagi pula tempat dan fungsinya kan juga berbeda mungkin terinspirasi dari sana mungkin. Kalo untuk yang ini sih kami kembalikan lagi ke kalian (pembaca) kami juga ingin tau tanggapan kalian bagaimana ? share di kolom komentar please. Yang jelas foto kaki itu bukan kakinya buk Desar yaaaa, jangan salah tangkap, ini foto salah satu aktivitas spa (UNTUK PARIWISATA) coba saja bu Desar yang upload ini pasti sudah dibuatkan lagu, dibuatkan vidio dan langsung ada satu orang yang share ini nih alamat rumah, email, ig, facebook, twitter, tiktok, eh ngomong- ngomong ibu itu eksis juga ya punya semua sosmed, wkwkkwk, tapi untuk yang ini kenapa gaada yang gubris ya ? atau mungkin karna pariwisata kan budayanya bersifat propan..... itu tu yang di pakek nulis sama bu guru (itu papan), eh iya kalo propan itu adalah sebuah cara untuk menggadu domba (itu propan- ganda) beda lagi itu, oh iyaya, kira- kira yang baca nanti ngerti bercandaan kita gak ya ? anggap aja ngerti wwk, yang jelas propan itu dibuat agar budaya dapat dikomersialisasikan melalui aktivitas wisata (nah itu bener).

    Sebenernya masih banyak ada kasus yang menyangkut taksu di Bali, contohnya viral vidio di wilayah Kintamani, mau tak kasik gambarnya gak ? jangan deh paling kalian uda punya vidionya ups... coba kalian pikir gaada tempat lain apa, kenapa kintamani kenapa ga karangasem gianyar eh canda- canda serius bercanda, maksudnya kenapa harus di tempat umum dan kawasan Pegunungan yang kita sangat sucikan itu. Apa semahal itu hottel di Bali, kalau ga mampu pake day use aja 8 jam cuma 200 ribuan, uda dapet mineral water sama fresh towel pake ngelapppp (muka maksudnya). Tapi sudah segera di tangani kasus ini dan semoga tidak terulang lagi, lagian di tempat umum sih kan jadinya cuma sebentar, ga puas nontonya,eh.... 

    Jadi menurut kami perlu adanya edukasi bagi penyedia jasa khususnya dikawasan yang disucikan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Biar perlu kasik penjaga satu, masyarakat lokal yang katanya masuk wilayah pantai yang katanya milik hotel aja berani diusir, apalagi masyarakat asing ya pastiiiiii berani, iyakaannn ?

Jadi sekian dulu teman- teman, dan kesimpulannya menurut kami taksu Bali sudah dipengaruhi oleh pariwisata karena ada penyimpangan- penyimpangan simbol agama, perilaku wisatawan yang secara tidak langsung membuat pariwisata berbasis Budaya Bali menurun kualitasnya. Sekalilagi tulisan ini hanyalah sebuah keresahan dan hanya sebagai bahan candaan saja, kami cuma sedikit mencoba memberi gambaran dari pariwisata yang sekarang, karna memang sedikit yang terlihat bahkan sebelum kami menulis ini kita menganggap biasa saja, atau mungkin memang biasa saja, cobalah kita sharring siapa tau bisa jadi masukan bagi pariwisata kita nantinya.

sekali lagi terimakasih atas semuanya, salam damai rahayu semeton makesami, dan maaf jika ada salah kata ataupun menyinggung perasaan yang lainya, kami cuma sekedar bercerita hal yang kami anggap jenaka di dunia pariwisata 

om santhi, santhi,santhi,om

krama bali tourism magz



        



Komentar

  1. Sangat inspiratif sekali tulisan nya, benar sekali pada era modern ini budaya bali seakan akan semakin tergusur oleh jaman, dan terkadang justru digunakan hanya untuk media menarik wisatawan, seperti sudah kehilangan taksu dari budaya itu sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju kak, tapi tidak semuanya kok, di pelosok desa- desa masih ada yang terjaga khuus di kota dengan pariwisata besar juga masih bisa terlihat, tapi cuma ada sedikit yang menyimpang thank you kak atas sharingnya

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer